Powered By Blogger

Rabu, 02 November 2011

PERANGKAT PENERBANGAN HEBAT PADA SERANGGA

Bagaimana seekor ganjurmampu mengepakkan sayapnya 1000 kali per detik? Bagaimana seekor kutu melompat sejauh ratusan kali ukuran tinggi tubuhnya? Mengapa seekor kupu-kupu terbang maju sementara sayapnya mengepak ke atas dan ke bawah?
Lalat adalah satu di antara hewan-hewan yang disebut di dalam Al Qur’an, sebagai satu saja dari banyak satwa yang mengungkap pengetahuan tak terbatas Tuhan kita. Allah Yang Mahakuasa berfirman tentang hal ini dalam ayat ke-73 surat Al Hajj:
Wahai manusia! Telah dibuat suatu perumpamaan. Maka dengarkanlah! Sesungguhnya segala yang kamu seru selain Allah tidak dapat menciptakan seekor lalat pun, walaupun mereka bersatu untuk menciptakannya. Dan jika lalat itu merampas sesuatu dari mereka, mereka tidak akan dapat merebutnya kembali dari lalat itu. Sama lemahnya yang menyembah dan yang disembah. (QS. Al Hajj, 22:73)

Otot-otot penerbangan dari banyak serangga seperti capung mengerut sangat kuat akibat rangsangan yang ditimbulkan oleh saraf-saraf yang mengendalikan setiap gerakan mereka
Meskipun telah dilakukan penelitian terkini, walaupun seluruh teknologi telah Allah berikan kepada manusia, amat banyak ciri makhluk hidup yang masih menyimpan sisi-sisi menakjubkannya. Sebagaimana pada segala sesuatu yang telah Allah ciptakan, dalam tubuh seekor lalat memperlihatkan bukti melimpah pengetahuan mahatinggi. Dengan mengkaji seluk beluknya, siapa pun yang berpikir akan mampu sekali lagi merenung di atas kekagumannya yang mendalam kepada Allah dan ketaatan kepadaNya.
Sejumlah penelitian yang telah dilakukan para ilmuwan terhadap perangkat penerbangan lalat dan serangga-serangga kecil lainnya diuraikan di bawah ini. Kesimpulan yang muncul darinya adalah tiada kekuatan acak, coba-coba atau wujud selain Allah yang mampu menciptakan kerumitan seekor serangga sekalipun.
Otot terbang dari banyak serangga seperti belalang dan capung mengerut sangat kuat akibat rangsangan yang ditimbulkan saraf-saraf yang mengendalikan setiap gerakannya. Pada belalang, misalnya, sinyal-sinyal kiriman setiap saraf menyebabkan otot-otot terbang mengerut. Dengan bekerja bergantian, tidak saling berlawanan, dua kelompok otot yang saling melengkapi, yang dinamakan elevator (pengangkat) dan depresor (penurun), memungkinkan sayap-sayap terangkat dan mengepak ke bawah. Belalang mengepakkan sayapnya 12 hingga 15 kali per detik, dan agar dapat terbang serangga-serangga lebih kecil harus mengepakkan sayapnya lebih cepat lagi. Lebah madu, tawon dan lalat mengepakkan sayap 200 hingga 400 kali per detik, dan pada ganjur dan sejumlah serangga merugikan yang berukuran hanya 1 milimeter (0.03 inci), kecepatan ini meningkat ke angka mengejutkan 1000 kali per detik! Sayap-sayap yang mengepak terlalu cepat untuk dapat dilihat mata manusia telah diciptakan dengan rancangan khusus agar dapat melakukan kerja yang terus-menerus semacam ini.
Sebuah saraf mampu mengirim paling banyak 200 sinyal per detik. Lalu bagaimana seekor serangga kecil mampu mengepakkan sayapnya 1000 kali per detik? Penelitian telah membuktikan bahwa pada serangga-serangga ini, tidak terdapat hubungan satu-banding-satu antara sinyal dari saraf dan jumlah kepakan sayap per satuan waktu.
Pada perangkat istimewa ini, yang masing-masing diciptakan tersendiri pada tubuh setiap serangga, tak dijumpai ketidakteraturan sedikit pun. Saraf-sarafnya tidak pernah mengirim sinyal yang salah, dan otot-otot serangga senantiasa menerjemahkannya secara benar.
Pada jenis seperti lalat dan lebah, otot-otot yang memungkinkan terbang bahkan tidak menempel pada pangkal sayap! Sebaliknya, otot-otot ini melekat pada dada melalui pengait yang berperan seperti engsel, sedangkan otot-otot yang mengangkat sayap ke atas melekat pada permukaan atas dan bawah dada. Saat otot-otot ini mengerut, permukaan dada menjadi rata dan menarik pangkal sayap ke bawah. Permukaan samping sayap memberikan peran penyokong sehingga memungkinkan sayap-sayap terangkat. Otot-otot yang menimbulkan gerakan ke bawah tidak melekat langsung pada sayap, tapi bekerja di sepanjang dada. Ketika otot-otot ini mengerut, dada tertarik kembali ke arah berlawanan, dan dengan cara ini sayap tergerakkan ke bawah.
Engsel sayap tersusun atas protein khusus yang dikenal sebagai resilin, yang memiliki kelenturan luar biasa. Karena sifatnya jauh mengungguli karet alami ataupun buatan, para insinyur kimia berupaya membuat tiruan bahan ini, di laboratorium. Saat melentur dan mengerut, resilin mampu menyimpan hampir keseluruhan energi yang dikenakan padanya, dan ketika gaya yang menekannya dihilangkan, resilin mampu mengembalikan keseluruhan energi itu. Alhasil, daya guna (efisiensi) resilin dapat mencapai 96%. Saat sayap terangkat, sekitar 85% energi yang dikeluarkan disimpan untuk saat berikutnya; energi yang sama ini kemudian digunakan kembali dalam gerakan ke bawah yang memberikan daya angkat ke atas dan mendorong sang serangga ke depan. Permukaan dada dan ototnya telah diciptakan dengan rancangan istimewa untuk memungkinkan pengumpulan energi ini. Namun, energi tersebut sesungguhnya disimpan pada engsel yang terdiri atas resilin. Sudah pasti mustahil bagi seekor serangga, dengan usahanya sendiri, melengkapi diri sendiri dengan peralatan luar biasa untuk terbang. Kecerdasan dan kekuatan tak terhingga Allah telah menciptakan resilin istimewa ini pada tubuh serangga.

Lebah madu, tawon dan lalat mengepakkan sayap mereka 200  hingga 400 kali per detik.
Untuk penerbangan yang mulus, gerakan lurus ke atas dan ke bawah saja tidaklah cukup. Agar dapat memunculkan gaya angkat dan gaya dorong, sayap haruslah pula mengubah sudut gerakannya di setiap kepakan. Sayap-sayap serangga memiliki kelenturan berputar yang khas, tergantung jenisnya, yang dimungkinkan oleh apa yang disebut sebagai direct flight muscles (otot-terbang kemudi), disingkat DFM yang menghasilkan gaya-gaya yang diperlukan untuk terbang.
Ketika serangga berupaya naik lebih tinggi di udara, mereka memperbesar sudut sayap mereka dengan mengerutkan otot-otot di antara engsel-engsel sayap ini secara lebih kuat. Rekaman gambar berkecepatan-tinggi dan gerak-terhenti memperlihatkan bahwa selama terbang, sayap-sayap tersebut bergerak mengikuti lintasan lingkar-telur dan untuk setiap kali putaran sayap, sudutnya berubah secara teratur. Perubahan ini disebabkan pergerakan yang senantiasa berubah dari otot-terbang kemudi dan penempelan sayap pada tubuh.
Masalah terbesar yang dihadapi jenis serangga sangat mungil ketika terbang adalah hambatan udara. Bagi mereka, kerapatan udara sangat besar menjadi rintangan yang tidak bisa diremehkan. Selain itu, lapisan penghambat di sekeliling sayap menyebabkan udara melekat pada sayap dan mengurangi kedayagunaan (efisiensi) terbang. Agar dapat mengatasi hambatan udara ini, serangga-serangga seperti Forcipomya, yang lebar sayapnya tak lebih dari 1 milimeter, harus mengepakkan sayap 1000 kali per detik.
Para ilmuwan percaya bahwa secara teori, kecepatan ini pun tidaklah cukup menahan serangga-serangga ini tetap di udara, dan mereka pastilah menggunakan perangkat tambahan lainnya. Pada kenyataannya, Anarsia, sejenis serangga merugikan, menggunakan cara yang dikenal sebagai 'beat and shake' (mengepak dan menggoyang). Ketika sayap-sayapnya mencapai titik tertinggi dalam gerakannya ke atas, sayap-sayap ini saling mengepak dan kemudian membuka ke bawah kembali. Di saat sayap-sayap ini (dengan jaringan pembuluh darahnya) membuka, aliran udara depan membentuk pusaran mengitari sayap-sayap tersebut dan dengan kepakan sayap membantu daya angkat.
Banyak jenis serangga, termasuk belalang, memperhatikan apa yang ditangkap penglihatannya seperti garis kaki langit (horizon) untuk menentukan arah terbang dan tujuan akhirnya. Untuk mengokohkan keseimbangan kedudukannya, lalat telah diciptakan dengan rancangan yang lebih luar biasa lagi. Serangga-serangga ini memiliki hanya sepasang sayap, tapi di sisi belakang masing-masing sayap itu terdapat tonjolan melingkar yang dikenal sebagai halter (pengekang). Meskipun tidak menghasilkan gaya angkat, pengekang ini bergetar bersama sayap-sayap depan. Di saat serangga mengubah arah terbangnya, tonjolan sayap ini mencegahnya menyimpang dari jalur perjalanan.
Seluruh pengetahuan yang dipaparkan di sini dihasilkan dari penelitian terhadap kemahiran terbang tiga atau empat jenis serangga saja. Perlu diketahui bahwa keseluruhan jenis serangga di bumi berjumlah sekitar 10 juta. Dengan mempertimbangkan seluruh jutaan jenis selebihnya ini, beserta keistimewaan tak terhitung yang dimilikinya, seseorang pasti semakin bertambah kekagumannya akan kehebatan Allah yang tak terhingga.
Pemecahan Masalah bagi Gangguan Vena dari Gen Kutu
Para ilmuwan telah berhasil memisahkan gen resilin dari lalat buah dan berhasil membuat salinan protein ini secara alamiah dengan mencangkokkan gen tersebut ke dalam bakteri Escherichia coli.
Dalam penelitian yang dilakukan the Australian Commonwealth Scientific and Industrial Research Organization (CSIRO), (Organisasi Penelitian Ilmiah dan Industri Persemakmuran Australia), para ilmuwan yang berhasil menemukan gen yang menghasilkan resilin serangga juga menemukan polimer hebat yang mungkin berguna dalam penanganan penyakit pembuluh darah vena. Pengkajian yang berawal di tahun 1960-an, yang dipusatkan pada belalang dan capung padang pasir, merupakan pendorong kuat yang memajukan tahap terpenting ini.
Resilin, yang juga memberikan kutu kemampuan untuk membuat lompatan luar biasa, melengkapi belalang dan capung padang pasir, serta serangga lain keahlian bergerak yang mengejutkan. Berkat zat ini, kutu mampu melompat beratus-ratus kali tinggi tubuhnya sendiri dan sejumlah lalat dapat mengepakkan sayapnya lebih dari 200 kali per detik.

Untuk penerbangan yang mulus, gerakan sayap lurus ke atas dan ke bawah tidaklah cukup. Sayap mesti pula mengubah sudut gerakannya di setiap kepakan. Sayap-sayap serangga memiliki kelenturan-berputar yang istimewa yang diberikan oleh otot-otot pengendali penerbangan.

Protein yang diperoleh dari resilin jauh lebih baik dari produk karet berkualitas tertinggi dalam hal kemampuannya menahan tekanan dan kembali ke bentuk asalnya. Penelitian yang berkelanjutan tentang resilin tiruan menunjukkan bahwa protein tersebut tetap memiliki sifat-sifat ini.
Para ilmuwan menyatakan keyakinannya bahwa polimer yang didapatkan dari pencangkokkan gen-gen serangga dapat diterapkan di aneka bidang yang sangat beragam, dari kedokteran hingga industri. Namun, mungkin yang terpenting dari penerapan ini adalah penanganan penyakit pembuluh darah arteri pada manusia. Oleh karena resilin menyerupai protein elastin pada pembuluh vena manusia, para ilmuwan berharap bahwa penelitian mereka akan memberi vena kelenturan yang terbaharui.
Profesor asal Inggris Roger Greenhalgh menyatakan bahwa “Penelitian [terhadap resilin] tampaknya berada pada tahap paling awal, tapi jika kita dapat mengambil sesuatu yang bagus dari kelenturan kutu tersebut yang bermanfaat bagi manusia, hal itu akan sangat berkesan“1

Rujukan:
1. "Synthesis and properties of cross linked recombinant pro-resilin,"; by Christopher M. Elvin, Andrew G. Carr, Mickey G. Huson, Jane M. Maxwell, Roger D. Pearson, Tony Vuocolo, Nancy E. Liyou, Darren C. C. Wong, David J. Merritt and Nicholas E. Dixon, Nature 437, 999-1002 (13 October 2005) | doi: 10.1038/nature04085; "Flea protein may repair arteries" BBC News, October 12, 2005

Sumber: http://www.harunyahya.com/

KAUM DARWINIS, ASAL TEMBAK SAJA...!!!

Kaum Darwinis sedang mengejar fosil-fosil yang ditemukan beberapa puluh tahun lalu. Mereka terus mencari fosil yang “dapat mereka rujuk sebagai bentuk peralihan.” Pertama-tama, mereka mengusulkan fosil Ida, yang ditemukan pada 1983, sebagai keajaiban kedelapan dunia. Ketika ini menjadi kegagalan yang memalukan, mereka segera mencabut seluruh pernyataannya tentang Ida. Bintang baru dari pertunjukan ini adalah ARDI.
ARDI (Ardipithecus ramidus) yang ditemukan pada 1994, baru-baru ini digembar-gemborkan sebagai penemuan terhebat 15 tahun kemudian. Kaum Darwinis kembali mengklaim bahwa mereka telah menemukan mata rantai (missing link) khayalan yang telah telah lama dicari. Lembaga-lembaga pemberitaan Darwinis segera bekerja. Dalam beberapa hari nyaris tak ada satu tempat pun di mana nama ARDI tidak bisa dilihat. Teknik penipuan serupa yang telah ada selama 150 tahun lalu kembali digunakan. Propaganda kaum Darwinis sepenuhnya berfungsi sesuai rencana dan semuanya dilaksanakan sesuai aturan kediktatoran Darwinis.
Pada awalnya bentuk kehidupan itu dikemukakan sebagai mata rantai yang sempurna. Mereka mengatakan bahwa “Dia berjalan tegak, meski usianya 4,4 juta tahun.” Gambar-gambar robot dibuat, dan kemudian dianimasikan dengan latar komputer. Gambar seekor kera yang berjalan tegak dengan langkah mantap muncul di semua penerbitan Darwinis. Bagian tampilan gambar dari propaganda tersebut telah lengkap. Segala yang tersisa adalah pernyataan palsu. Dan karena kaum Darwinis terbiasa mengeluarkan pernyataan palsu, hal itu segera terpecahkan. Teknik-teknik propaganda Darwinis telah diterapkan tanpa gangguan.
Satu-satunya hal di luar perhitungan kaum Darwinis adalah bahwa tipu muslihat ini pasti akan terungkap. Bidang ini tidak kosong seperti sebelumnya. Mereka tak pernah membayangkan bahwa tipuan ARDI pasti akan terungkap.
DR. OKTAR BABUNA MENJELASKAN PENIPUAN FOSIL ARDI DALAM SIARAN LANGSUNG DI TV ALJAZEERA
(3 Oktober 2009)
Seperti Semua Dongeng Fosil Peralihan Mereka, Kaum Darwinis Menipu Masyarakat Mengenai ARDI:
Seperti yang telah sering kami jelaskan sebelumnya, kaum Darwinis menggunakan siasat berikut untuk menjelaskan evolusi manusia yang khayalan itu: mereka mengambil seekor gorila atau simpanse yang telah punah. Itu mudah bagi kaum Darwinis karena hanya 120 DARI 6.000 SPESIES KERA YANG PERNAH ADA MASIH HIDUP SAAT INI. Dengan kata lain, sisa-sisa fosil dari 5.880 spesies kera merupakan alat yang sempurna bagi khayalan kaum Darwinis.
Kaum Darwinis umumnya menyusun skenario kuno dengan menggunakan fosil-fosil ini, lalu membuat pernyataan seperti “Baiklah, ini seekor kera, tetapi ibujarinya bengkok dan alas kakinya melengkung, artinya dia sedang berubah menjadi seorang manusia.” Skenario ini benar-benar tak masuk akal, tetapi uraian-uraian tidak masuk akal ini mungkin tampak sangat meyakinkan bagi orang-orang yang awam tentang hal ini ketika diterbitkan di media kaum Darwinis yang terkenal di dunia, ketika diberi embel-embel istilah ilmiah yang sulit dimengerti orang, dan ketika orang-orang yang mendukungnya adalah para profesor yang menganut Darwinisme secara membabi buta, dengan kata lain, ketika kebohongan diulang berkali-kali. Dengan demikian kaum Darwinis memanfaatkan ketidaktahuan masyarakat, pengaruh media massa serta teknik-teknik propaganda, dan telah menggunakan siasat tercela ini selama bertahun-tahun hingga kini.
Dalam kasus ARDI, kaum Darwinis membuat salinan kembar BONOBO dan bukan spesies-spesies yang telah punah. Dan mereka berkata, “Baiklah, ini seekor kera, tapi dia berdiri tegak!” Kaum Darwinis mengelabui masyarakat dengan pernyataan ini. Mereka mendapati sasaran tembak kosong dan bebas menembak sesuka hati.
Gagasan bahwa ARDI Mampu Berjalan Tegak Adalah Sebuah Penipuan Buruk:

ARDI
Ditemukan pada 1994, kondisi fosil kerangka ini tercerai berai saat pertama kali ditemukan. Sehingga ketika palentolog pertama kali mengangkatnya, potongan-potongan tulang yang terfosilkan itu sangatlah rapuh. Paleontolog yang memeriksa fosil itu mengatakan, dari foto yang diambil ketika pertama kali ditemukan, tulang panggul tampak lapuk dan tulang-tulangnya harus “direkonstruksi (disusun ulang)” milimeter demi milimeter. Sesuai keputusan itu, kaum Darwinis mengambil potongan-potongan tak berbentuk hingga ukuran milimeter dan menyusun sejenis tulang panggul yang mereka inginkan.
Perawakan suatu makhluk hidup adalah perkara rumit yang dapat ditentukan melalui struktur panggul dan perbandingan antara beragam struktur lain pada tubuhnya. Agar perawakan tegak lurus tercipta, tulang panggul harus diperiksa setiap milimeternya dan dengan teknik pengukuran tertentu, dan sudut antara tulang panggul, tulang paha dan tulang lutut harus ditentukan dengan perhitungan yang sangat tepat dan teliti.
Adalah mustahil untuk melakukan perhitungan rumit itu terhadap fosil ini, yang lebih dari setengah bagiannya hilang dan tulang panggulnya telah direkonstruksi (disusun ulang) seluruhnya. Namun sangatlah mudah menyusun fosil itu sedemikian rupa untuk menunjukkan bahwa pemiliknya berjalan tegak.
Setiap paleontolog dapat menyusun potongan-potongan tersebut dan menafsirkan fosil yang baru sesuai keinginannya. Hal ini dimuat dalam sebuah artikel tentang ARDI di majalah Time:
“Sesungguhnya, dengan melihat bukti tersebut, paleoantropolog berbeda mungkin memiliki penafsiran berbeda tentang bagaimana ARDI bergerak ...” [1]
Selain itu, kaki ARDI yang kondisinya masih baik sepenuhnya menolak pernyataan kaum Darwinis mengenai bahasan itu. Ibujari kaki yang menunjuk ke dalam pada kaki ARDI dan tidak adanya kaki melengkung seperti pada manusia adalah sebagian dari bukti-bukti tergamblang bahwa makhluk hidup ini tidak berjalan tegak. Situs BBC mengatakan dalam sebuah laporan mengenai ARDI bahwa berdasarkan bukti itu “ia tidak bisa berjalan atau berlari untuk jarak jaruh.” [2] Sebuah laporan di situs National Geographic mengatakan bahwa “Ardi mungkin berjalan dengan tapak tangannya saat bergerak di pepohonan.” [3]
Kaum Darwinis memilih sebuah fosil untuk membuat tafsiran 15 tahun setelah penemuannya. Fosil yang menjadi tafsiran itu haruslah yang mendukung penuh skenario cara berjalan tegak lurus yang menjadi tumpuan harapan kaum Darwinis. Dan karena tidak tersedia fosil perantara, bahan paling cocok untuk penafsiran bagi kaum Darwinis adalah fosil yang TERPOTONG-POTONG.
Itulah peluang yang ARDI berikan bagi kaum Darwinis: Mereka mengambil fosil yang terpotong-potong tersebut, menyusunnya sesuai pilihan mereka dan membuat tafsiran sekehendak mereka. Dan begitulah tipuan kaum Darwinis bekerja.
Mengapa 15 Tahun Kemudian?
Karena kaum Darwinis sadar bahwa mereka telah dikalahkan. Beberapa tahun terakhir ini khususnya adalah saat di mana kaum Darwinis telah menderita keruntuhan besar dan sangat dahsyat. Teknik-teknik tipuan kaum Darwinis telah terungkap, ketiadaan fosil-fosil perantara apa pun telah dipaparkan jelas, dan kepalsuan kaum Darwinis telah terungkap. Namun yang paling penting dari semuanya, 250 JUTA FOSIL YANG SEMUANYA MEMBUKTIKAN PENCIPTAAN TELAH MUNCUL. Atlas Penciptaan telah memberikan pukulan yang paling telak bagi kaum Darwinis. Hari ini tak seorang pun, termasuk kaum Darwinis, yang tidak tahu bahwa TIDAK SATU FOSIL PERALIHAN PUN ADA. Oleh sebab itu kaum Darwinis berada dalam keadaan sangat terguncang.
Akibat guncangan hebat itu, mereka kebingungan mencari jalan keluar, lalu mereka mengambil fosil-fosil BENTUK KEHIDUPAN SEMPURNA YANG DITEMUKAN 15-20 tahun lalu dari dalam laci dan menulis kisah khayalan tentang mereka. Geliat kaum Darwinis ini adalah petunjuk terjelas tentang kekalahan yang mereka alami. Omong kosong yang dibuat-buat berdasarkan fosil kera atau lemur biasa juga menandai fakta itu. Tetapi sesungguhnya teori evolusi menuntut keberadaan bukan hanya 1, 3 atau selusin FOSIL PERANTARA, MELAINKAN MILIARAN. TAPI SATU FOSIL PERANTARA PUN TIDAK ADA, apalagi miliaran. Alasan kaum Darwinis menyebarluaskan omong kosong ini adalah kekalahan dan keputusasaan mereka.
--------------------
[1] Michael D. Lemonick and Andrea Dorfman, "Excavating Ardi: A New Piece for the Puzzle of Human Evolution," Time magazine (October 1, 2009).
[2] http://news.bbc.co.uk/2/hi/science/nature/8285180.stm
[3] Jamie Shreeve, “Oldest Skeleton of Human Ancestor Found,” National Geographic magazine (October 1, 2009).

Sumber: Harun Yahya