Powered By Blogger

Sabtu, 09 Juli 2011

MELESTARIKAN TAUHID DENGAN DZIKIR DAN SYUKUR


Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Perumpamaan orang yang mengingat Rabbnya dengan orang yang tidak mengingat Rabbnya adalah seperti perumpamaan orang yang hidup dengan orang yang sudah mati.” (HR. Bukhari dan Muslim)
Syaikhul Islam mengatakan, “Dzikir bagi hati laksana air bagi ikan. Lantas apakah yang akan terjadi pada seekor ikan apabila dia dipisahkan dari air?” (Lihat Al Wabil Ash Shayyib oleh Ibnul Qayyim)


Kaitan Syukur dengan Tauhid
Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab mengatakan dalam mukadimah Al Qawa’id Al Arba’, “Aku memohon kepada Allah yang Maha mulia Rabb pemilik arsy yang agung, semoga Dia senantiasa menolongmu dalam kehidupan dunia dan akhirat. Semoga Dia menjadikanmu senantiasa diberkahi di manapun engkau berada dan menjadikanmu bersyukur apabila diberi karunia, bersabar apabila mendapat coba, dan memohon ampun apabila terjatuh dalam dosa, karena sesungguhnya ketiga hal itulah lambang kebahagiaan.”
Syaikh Shalih Alusy Syaikh mengatakan,”Syukur memiliki kaitan erat dengan tauhid. Tatkala sang imam (Syaikh Muhammad bin abdul Wahhab) rahimahullah menyebutkan do’a untuk kita supaya bersyukur atas karunia, bersabar atas musibah dan istighfar ketika berbuat dosa, seolah-olah beliau sedang mengarahkan pandangan matanya kepada kondisi yang dialami kaum yang bertauhid. Beliau berbicara dengan mereka tentang suatu kewajiban yang harus senantiasa mereka tunaikan.  
Sebab seorang yang telah bertauhid mendapatkan karunia yang sangat besar, tidak ada lagi nikmat lain yang menandinginya. Nikmat itu adalah keberadaannya di atas ajaran Islam yang lurus. Nikmat itulah yang membuatnya bisa tegak di atas prinsip tauhid yang murni. Tauhid itulah yang menjadi sebab Allah menjanjikan kebahagiaan di dunia dan di akhirat bagi orang-orang yang merealisasikannya.” (Syarh Qawa’id Arba’)
Syaikh Shalih melengkapi keterangannya, “Apabila berdosa maka diapun beristighfar”. Dalam diri seorang muwahhid juga terdapat unsur ketidaktaatan. Dia tidaklah terlepas dari perbuatan dosa, yang kecil maupun yang besar. Sedangkan salah satu Asma’ Allah adalah Al Ghafuur (Maha Pengampun) maka pengaruh hukum dari Asma itu pasti terwujud pada alam serta kerajaan-Nya. Karena itulah Allah mencintai hamba-Nya yang bertauhid lagi ikhlash untuk senantiasa meminta ampunan. Seorang muwahhid pasti mengalami hal itu.”
“Apabila seorang hamba meninggalkan keagungan istighfar ini, niscaya dia akan tertimpa kesombongan. Padahal kesombongan akan menghapuskan banyak pahala amal perbuatan. Karena latar belakang itulah beliau (Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab rahimahullah) mengatakan di sini,”Apabila berdosa maka diapun beristighfar. Karena sesungguhnya ketiga hal itu adalah simbol kebahagiaan sejati”. Maka ini artinya hal itu pasti terjadi terhadap setiap muwahhid. Hal itu mencakup bersyukur ketika mendapat karunia, bersabar ketika tertimpa coba dan beristighfar ketika berbuat dosa dan maksiat. Semakin besar pengenalan seorang hamba terhadap Tuhannya niscaya ketiga hal inipun akan semakin kuat tertancap di dalam jiwanya. Dan semakin besar ruang tauhid dalam hati seorang hamba niscaya ketiga hal ini pun turut membesar. Dengan sikap demikian niscaya akan melahirkan seorang hamba yang tidak lagi memandang selain keridhaan Allah jalla wa ‘ala dalam melaksanakan amal maupun aktifitas hidupnya, dia tidak mau mempersembahkan sedikitpun amalnya untuk selain-Nya. Apabila dia telah lalai dari hal itu maka istighfar yang diucapkannya bukanlah istighfar yang sebenarnya.” (Syarh Qawa’id Arba’)
Berdzikir dan Bersyukur
Allah ta’ala berfirman,
فَاذْكُرُونِي أَذْكُرْكُمْ وَاشْكُرُوا لِي وَلَا تَكْفُرُونِ
“Ingatlah kepada-Ku, Aku juga akan ingat kepada kalian. Dan bersyukurlah kepada-Ku, janganlah kalian kufur.” (Qs. Al Baqarah [2]: 152)
Syaikh Abdurrahman bin Nashir As Sa’di rahimahullah menjelaskan, “Dzikir kepada Allah ta’ala yang paling utama adalah dengan menyesuaikan isi hati dengan dzikir yang diucapkan oleh lisan. Itulah dzikir yang dapat membuahkan pengenalan kepada Allah, rasa cinta kepada-Nya, dan pahala yang melimpah dari-Nya. Dzikir adalah bagian terpenting dari syukur.
Oleh sebab itu Allah memerintahkannya secara khusus, kemudian sesudahnya Allah memerintahkan untuk bersyukur secara umum. Allah berfirman yang artinya, “Maka bersyukurlah kepada-Ku.”
Yaitu bersyukurlah kalian atas nikmat-nikmat ini yang telah Aku karuniakan kepada kalian dan atas berbagai macam bencana yang telah Aku singkirkan sehingga tidak menimpa kalian….”
“Disebutkannya perintah untuk bersyukur setelah penyebutan berbagai macam nikmat diniyah yang berupa ilmu, penyucian akhlak, dan taufik untuk beramal, maka itu menjelaskan bahwa sesungguhnya nikmat diniyah adalah nikmat yang paling agung. Bahkan, itulah nikmat yang sesungguhnya. Apabila nikmat yang lain lenyap, nikmat tersebut masih tetap ada.
Sudah selayaknya setiap orang yang telah mendapatkan taufik (dari Allah) untuk berilmu atau beramal untuk bersyukur kepada Allah atas nikmat itu. Hal itu supaya Allah menambahkan karunia-Nya kepada mereka. Dan juga, supaya lenyap perasaan ujub (kagum diri) dari diri mereka. Dengan demikian, mereka akan terus disibukkan dengan bersyukur.”
“Karena lawan dari syukur adalah ingkar/kufur, Allah pun melarang melakukannya. Allah berfirman (yang artinya), “Dan janganlah kalian kufur”. Yang dimaksud dengan kata ‘kufur’ di sini adalah yang menjadi lawan dari kata syukur. Maka, itu berarti kufur di sini bermakna tindakan mengingkari nikmat dan menentangnya, tidak menggunakannya dengan baik. Dan bisa jadi maknanya lebih luas daripada itu, sehingga ia mencakup banyak bentuk pengingkaran. Pengingkaran yang paling besar adalah kekafiran kepada Allah, kemudian diikuti oleh berbagai macam perbuatan kemaksiatan yang beraneka ragam jenisnya dari yang berupa kemusyrikan sampai yang ada di bawah-bawahnya.” (Taisir Karimir Rahman, hal. 74)
Adh Dhahak bin Qais mengatakan, “Ingatlah kepada Allah di saat senang, niscaya Dia akan mengingat kalian di saat sulit.” (Jami’ul ‘Ulum, hal. 248) Ada lelaki berkata kepada Abud Darda’, “Berilah saya wasiat.” Beliau menjawab, “Ingatlah Allah di waktu senang, niscaya Allah ‘azza wa jalla akan mengingatmu di waktu susah.” (Jami’ul ‘Ulum, hal. 248)
Penopang Tegaknya Agama
Al ‘Allamah Ibnul Qayyim rahimahullah mengatakan di dalam sebuah kitabnya yang penuh faedah yaitu Al Fawa’id, “Bangunan agama ini ditopang oleh dua kaidah: Dzikir dan syukur. Allah ta’ala berfirman (yang artinya), “Ingatlah kepada-Ku, Aku juga akan ingat kepada kalian. Dan bersyukurlah kepada-Ku, janganlah kalian kufur.” (QS. Al Baqarah [2] : 152).”
Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda kepada Mu’adz, “Demi Allah, aku benar-benar mencintaimu. Maka janganlah kamu lupa untuk membaca doa di setiap akhir shalat: ‘Allahumma a’innii ‘ala dzikrika wa syukrika, wa husni ‘ibaadatik.’ (Ya Allah, bantulah aku untuk mengingat-Mu dan bersyukur kepada-Mu, serta agar bisa beribadah dengan baik kepada-Mu).” (HR. An Nasa’i [1303] dalam pembahasan Sujud Sahwi, Abu Dawud [1522] dalam pembahasan Shalat, dan Ahmad [21614] dari jalan Abdurrahman Al Hubla dari Ash Shonabihi dari Mu’adz bin Jabal, disahihkan Al Albani dalam Sahih Sunan Abu Dawud. (Tahqiq Al Fawa’id))
“Bukanlah yang dimaksud dengan dzikir di sini sekedar berdzikir dengan lisan. Namun, dzikir dengan hati sekaligus dengan lisan. Berdzikir/mengingat Allah mencakup mengingat nama-nama dan sifat-sifat-Nya, mengingat perintah dan larangan-Nya, mengingat-Nya dengan membaca firman-firman-Nya.
Itu semua tentunya akan melahirkan ma’rifatullah (pengenalan terhadap Allah), keimanan kepada-Nya, serta keimanan kepada kesempurnaan dan keagungan sifat-sifat-Nya.
Selain itu, ia akan membuahkan berbagai macam sanjungan yang tertuju kepada-Nya. Sementara itu semua tidak akan sempurna apabila tidak dilandasi dengan ketauhidan kepada-Nya. Maka dzikir yang hakiki pasti akan melahirkan itu semuanya. Dan ia juga akan melahirkan kesadaran mengingat berbagai macam kenikmatan, anugerah, serta perbuatan baik-Nya kepada makhluk-Nya.”
“Adapun syukur adalah mengabdi kepada Allah dengan menaati-Nya, mendekatkan diri kepada-Nya dengan hal-hal yang dicintai-Nya, baik yang bersifat lahir ataupun batin. Dua perkara inilah simpul ajaran agama. Mengingat-Nya akan melahirkan pengenalan (hamba) kepada-Nya.
Dan dalam bersyukur kepada-Nya terkandung ketaatan kepada-Nya. Kedua perkara inilah tujuan diciptakannya jin dan manusia, langit dan bumi serta segala sesuatu yang berada di antara keduanya. Lawan dari tujuan ini adalah berupa kebatilan (kesia-siaan) dan main-main belaka. Allah Maha tinggi dan Maha suci dari perbuatan semacam itu. Seperti itulah anggapan buruk yang ada pada diri musuh-musuh-Nya.”
“Allah ta’ala berfirman yang artinya, “Dan tidaklah Kami menciptakan langit dan bumi serta apa-apa yang ada di antara keduanya sia-sia, itulah yang disangka oleh orang-orang kafir itu.” (Qs. Shad [38]: 27)
Allah ta’ala berfirman yang artinya, “Dan tidaklah Kami menciptakan langit dan bumi serta apa yang berada di antara keduanya sekedar bermain-main saja. Tidaklah Kami menciptakan keduanya kecuali dengan tujuan yang benar.” (Qs. Ad Dukhan [44]: 38-39)
Allah juga berfirman yang artinya, “Dan tidaklah Kami menciptakan langit dan bumi serta apa yang ada di antara keduanya kecuali dengan tujuan yang benar, dan sesungguhnya hari kiamat itu pasti datang.” (Qs. Al Hijr [15]: 85)
Allah berfirman setelah menyebutkan tanda-tanda kebesaran-Nya di awal surat Yunus yang artinya, “Tidaklah Allah menciptakan hal itu semua kecuali dengan maksud yang benar.” (Qs. Yunus [10]: 5)
Allah berfirman yang artinya, “Apakah manusia mengira dia ditinggalkan begitu saja.” (Qs. Al Qiyamah [75]: 36). Allah berfirman pula yang artinya, “Apakah kalian mengira kalau Kami menciptakan kalian hanya sia-sia dan kalian tidak akan dikembalikan kepada Kami?” (Qs. Al Mu’minun [23]: 115)
Allah berfirman yang artinya, “Dan tidaklah Kami menciptkan jin dan manusia melainkan supaya mereka beribadah kepada-Ku.” (Qs. Adz Dzariyat [51]: 56)
Dalam ayat lainnya, “Allah lah yang menciptakan tujuh lapis langit dan bumi seperti itu pula. Perintah Allah berlaku padanya, agar kamu mengetahui bahwa sesungguhnya Allah maha kuasa atas segala sesuatu dan Allah ilmunya meliputi segala sesuatu.” (Qs. Ath Thalaq [65]: 12)
Allah berfirman yang artinya, “Allah menjadikan ka’bah yaitu baitul haram sebagai kiblat sholat bagi umat manusia, demikian pula bulan haram, hadyu dan qalaa’id. Itu semua agar kalian mengetahui allah mengetahui segala sesuatu yang ada di langit dan segala yang ada di bumi, dan bahwasanya Allah Maha mengetahui segala sesuatu.” (Qs. Al Maa-idah [5]: 97).”
“Maka dengan disebutkannya ayat-ayat tersebut telah terbukti bahwasanya tujuan penciptaan dan perintah ialah agar Allah diingat dan disyukuri. Sehingga Dia akan selalu diingat dan tidak dilupakan. Akan selalu disyukuri dan tidak diingkari. Allah Yang Maha suci akan mengingat siapa saja yang mengingat diri-Nya. Dan Allah juga akan berterima kasih (membalas kebaikan) kepada siapa saja yang bersyukur kepada-Nya.
Mengingat Allah adalah sebab Allah mengingat hamba. Dan bersyukur kepada-Nya adalah sebab Allah menambahkan nikmat-Nya. Maka dzikir lebih terfokus untuk kebaikan hati dan lisan. Syukur dari hati dalam bentuk rasa cinta dan taubat yang disertai ketaatan. Adapun di lisan, syukur itu akan tampak dalam bentuk pujian dan sanjungan. Dan syukur juga akan muncul dalam bentuk ketaatan dan pengabdian oleh segenap anggota badan.” (Al Fawa’id, hal. 124-125)
Wa shallallahu ‘ala nabiyyina Muhammadin wa ‘ala aalihi wa shahbihi wa sallam. Walhamdulillaahi Rabbil ‘alamiin.
Semoga Allah mengampuninya, Kedua orang tuanya dan segenap kaum muslimin
Sumber:  www.muslim.or.id

AL-QUR`AN OBAT SEGALA PENYAKIT


وَنُنَزِّلُ مِنَ الْقُرْآنِ مَا هُوَ شِفَاءٌ وَرَحْمَةٌ لِلْمُؤْمِنِيْنَ وَلاَ يَزِيْدُ الظَّالِمِيْنَ إِلاَّ خَسَارًا
“Dan Kami turunkan dari Al-Qur`an suatu yg menjadi penyembuh dan rahmat bagi orang2 yg beriman dan Al-Qur`an itu tidaklah menambah kepada orang2 yg dzalim selain kerugian.”
Penjelasan Beberapa Mufradat Ayat
نُنَزِّلُ
“Kami turunkan.” Jumhur ahli qiraah membaca dgn diawali nun dan bertasydid. Adapun Abu ‘Amr membaca dgn tanpa tasydid . Sedangkan Mujahid membaca dgn diawali huruf ya`dan tanpa tasydid Al-Marwazi juga meriwayatkan demikian dari Hafs.
مِنَ الْقُرْآنِ
“dari Al-Qur`an.” Kata min dlm ayat ini menurut pendapat yg rajih menjelaskan jenis dan spesifikasi yg dimiliki Al-Qur`an. Kata min di sinitdk bermakna “sebagian” yg mengesankan bahwa di antara ayat-ayat Al-Qur`an ada yg tdk termasuk syifa` sebagaimana yg dirajihkan oleh Ibnul Qayyim rahimahullahu. Kata min pada ayat ini seperti hal yg terdapat dlmfirman-Nya:
وَعَدَ اللهُ الَّذِيْنَ آمَنُوا مِنْكُمْ وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ لَيَسْتَخْلِفَنَّهُمْ فِي اْلأَرْضِ
“Dan Allah telah berjanji kepada orang2 yg beriman di antara kamu dan mengerjakan amal-amal yg shalih bahwa Dia sungguh-sungguh akan menjadikan mereka berkuasa di bumi..”
Kata min dlm lafadz
مِنْكُمْ tidaklah bermakna sebagian sebab mereka seluruh adl orang2 yg beriman dan beramal shalih.
شِفَاءٌ
“Penyembuh.” Penyembuh yg dimaksud di sini meliputi penyembuh atas segala penyakit baik rohani maupun jasmani sebagaimana yg akan dijelaskan dlm tafsirnya.
Penjelasan Tafsir Ayat
Ibnu Katsir rahimahullahu berkata: “Allah Subhanahu wa Ta’ala mengabarkan tentang kitab-Nya yg diturunkan kepada Rasul-Nya Shallallahu ‘alaihi wa sallam yaitu Al-Qur`an yg tdk terdapat kebatilan di dlm baik dari sisi depan maupun belakang yg diturunkan dari Yang Maha Bijaksana lagi Maha Terpuji bahwa sesungguh Al-Qur`an itu merupakan penyembuh dan rahmat bagi kaum mukminin. Yaitu menghilangkan segala hal berupa keraguan kemunafikan kesyirikan penyimpangan dan penyelisihan yg terdapat dlm hati. Al-Qur`an-lah yg menyembuhkan itu semua. Di samping itu ia merupakan rahmat yg dengan membuahkan keimanan hikmah mencari kebaikan dan mendorong utk melakukannya. Hal ini tidaklah didapatkan kecuali oleh orang yg mengimani membenarkan serta mengikutinya. Bagi orang yg seperti ini Al-Qur`an akan menjadi penyembuh dan rahmat.
Adapun orang kafir yg mendzalimi diri sendiri mk tatkala mendengarkan Al-Qur`an tidaklah bertambah bagi melainkan semakin jauh dan semakin kufur. Dan sebab ini ada pada orang kafir itu bukan pada Al-Qur`annya. Seperti firman Allah Subhanahu wa Ta’ala:
قُلْ هُوَ لِلَّذِيْنَ آمَنُوا هُدًى وَشِفَاءٌ وَالَّذِيْنَ لاَ يُؤْمِنُوْنَ فِي آذَانِهِمْ وَقْرٌ وَهُوَ عَلَيْهِمْ عَمًى أُولَئِكَ يُنَادَوْنَ مِنْ مَكَانٍ بَعِيْدٍ
“Katakanlah: ‘Al-Qur`an itu adl petunjuk dan penawar bagi orang2 yg beriman. Dan orang2 yg tdk beriman pada telinga mereka ada sumbatan sedang Al-Qur`an itu suatu kegelapan bagi mereka. Mereka itu adl orang2 yg dipanggil dari tempat yg jauh’.”
Dan Allah Subhanahu wa Ta’ala juga berfirman:
وَإِذَا مَا أُنْزِلَتْ سُوْرَةٌ فَمِنْهُمْ مَنْ يَقُوْلُ أَيُّكُمْ زَادَتْهُ هَذِهِ إِيْمَانًا فَأَمَّا الَّذِيْنَ آمَنُوا فَزَادَتْهُمْ إِيْمَانًا وَهُمْ يَسْتَبْشِرُوْنَ. وَأَمَّا الَّذِيْنَ فِيْ قُلُوْبِهِمْ مَرَضٌ فَزَادَتْهُمْ رِجْسًا إِلَى رِجْسِهِمْ وَمَاتُوا وَهُمْ كَافِرُوْنَ
“Dan apabila diturunkan suatu surat mk di antara mereka ada yg berkata: ‘Siapakah di antara kamu yg bertambah iman dgn surat ini?’ Adapun orang2 yg beriman mk surat ini menambah iman sedang mereka merasa gembira. Adapun orang2 yg di dlm hati mereka ada penyakit mk dgn suratitu bertambah kekafiran mereka di samping kekafiran dan mereka mati dlm keadaan kafir.”
Dan masih banyak ayat-ayat yg menjelaskan tentang hal ini.”
Al-’Allamah Abdurrahman As-Sa’di rahimahullahu berkata pula dlm menjelaskan ayat ini:
“Al-Qur`an mengandung penyembuh dan rahmat. Dan ini tdk berlaku utk semua orang namun hanya bagi kaum mukminin yg membenarkan ayat-ayat-Nya dan berilmu dengannya. Adapun orang2 dzalim yg tdk membenarkan dan tdk mengamalkan mk ayat-ayat tersebut tidaklah menambah bagi kecuali kerugian. Karena hujjah telah ditegakkan kepada dgn ayat-ayat itu.
Penyembuhan yg terkandung dlm Al-Qur`an bersifat umum meliputi penyembuhan hati dari berbagai syubhat kejahilan berbagai pemikiran yg merusak penyimpangan yg jahat dan berbagai tendensi yg batil. Sebab ia mengandung ilmu yakin yg dengan akan musnah tiap syubhat dan kejahilan. Ia merupakan pemberi nasehat serta peringatan yg dengan akan musnah tiap syahwat yg menyelisihi perintah Allah Subhanahu wa Ta’ala. Di samping itu Al-Qur`an juga menyembuhkan jasmani dari berbagai penyakit.
Adapun rahmat mk sesungguh di dlm terkandung sebab-sebab dan sarana utk meraihnya. Kapan saja seseorang melakukan sebab-sebab itu mk dia akan menang dgn meraih rahmat dan kebahagiaan yg abadi serta ganjaran kebaikan cepat ataupun lambat.”
Al-Qur`an Menyembuhkan Penyakit Jasmani
Suatu hal yg menjadi keyakinan tiap muslim bahwa Al-Qur`anul Karim diturunkan Allah Subhanahu wa Ta’ala utk memberi petunjuk kepada tiap manusia menyembuhkan berbagai penyakit hati yg menjangkiti manusia bagi mereka yg diberi hidayah oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala dan dirahmati-Nya. Namun apakah Al-Qur`an dapat menyembuhkan penyakit jasmani?
Dalam hal ini para ulama menukilkan dua pendapat: Ada yg mengkhususkan penyakit hati; Ada pula yg menyebutkan penyakit jasmani dgn cara meruqyah ber-ta’awudz dan semisalnya. Ikhtilaf ini disebutkan Al-Qurthubi dlm Tafsir-nya. Demikian pula disebutkan Asy-Syaukani dlm Fathul Qadir lalu beliau berkata: “Dan tdk ada penghalang utk membawa ayat ini kepada dua makna tersebut.”
Pendapat ini semakin ditegaskan Syaikhul Islam Ibnul Qayyim rahimahullahu dlm kitab Zadul Ma’ad:
“Al-Qur`an adl penyembuh yg sempurna dari seluruh penyakit hati dan jasmani demikian pula penyakit dunia dan akhirat. Dan tidaklah tiap orang diberi keahlian dan taufiq utk menjadikan sebagai obat. Jika seorang yg sakit konsisten berobat dengan dan meletakkan pada sakit dgn penuh kejujuran dan keimanan penerimaan yg sempurna keyakinan yg kokoh dan menyempurnakan syarat niscaya penyakit apapun tdk akan mampu menghadapi selama-lamanya. Bagaimana mungkin penyakit tersebut mampu menghadapi firman Dzat yg memiliki langit dan bumi. Jika diturunkan kepada gunung mk ia akan menghancurkannya. Atau diturunkan kepada bumi mk ia akan membelahnya. mk tdk satu pun jenis penyakit baik penyakit hati maupun jasmani melainkan dlm Al-Qur`an adacara yg membimbing kepada obat dan sebab nya.”
Berikut ini kami sebutkan beberapa riwayat berkenaan tentang pengobatan dgn Al-Qur`an.
Di antara adl apa yg diriwayatkan Al-Bukhari Muslim dan lain dari hadits ‘Aisyah radhiallahu ‘anha.Beliau radhiallahu ‘anha berkata: “Adalah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam terkena sihir1 sehingga beliau menyangka bahwa beliau mendatangi istri padahal tdk mendatanginya.
Lalu beliau berkata: ‘Wahai ‘Aisyah tahukah kamu bahwa Allah Subhanahu wa Ta’ala telah mengabulkan permohonanku? Dua lelaki telah datang kepadaku. Kemudian salah satu duduk di sebelah kepalaku dan yg lain di sebelah kakiku. Yang di sisi kepalaku berkata kepada yg satunya: ‘Kenapa beliau?’
Dijawab: ‘Terkena sihir.’
Yang satu bertanya: ‘Siapa yg menyihirnya?’
Dijawab: ‘Labid bin Al-A’sham lelaki dari Banu Zuraiq sekutu Yahudi ia seorang munafiq.’
bertanya: ‘Dengan apa?’
Dijawab: ‘Dengan sisir rontokan rambut.’
bertanya: ‘Di mana?’
Dijawab: ‘Pada mayang korma jantan di bawah batu yg ada di bawah sumur Dzarwan’.”
‘Aisyah radhiallahu ‘anha lalu berkata: “Nabi lalu mendatangi sumur tersebut hingga beliau mengeluarkannya. Beliau lalu berkata: ‘Inilah sumur yg aku diperlihatkan seakan-akan air adl air daun pacar dan pohon korma seperti kepala-kepala setan’. Lalu dikeluarkan. Aku bertanya: ‘Mengapa engkau tdk mengeluarkan ?’ Beliau menjawab: ‘Demi Allah sungguh Allah telah menyembuhkanku dan aku membenci tersebar kejahatan di kalangan manusia’.”
Hadits ini diriwayatkan Al-Bukhari dlm Shahih- . Juga dlm Shahih- . Juga diriwayatkan oleh Al-Imam Asy-Syafi’i sebagaimana yg terdapat dlm Musnad Asy-Syafi’i Al-Asfahani dlm Dala`ilun Nubuwwah dan Al-Lalaka`i dlm Syarah Ushul I’tiqad Ahlis Sunnah . Namun ada tambahan bahwa ‘Aisyah berkata: “Dan turunlah :
قُلْ أَعُوْذُ بِرَبِّ الْفَلَقِ. مِنْ شَرِّ مَا خَلَقَ
Hingga selesai bacaan surah tersebut.”
Demikian pula yg diriwayatkan Al-Imam Bukhari rahimahullahu dlm Shahih- dari hadits Abu Sa’id Al-Khudri radhiallahu ‘anhu beliau berkata:
“Sekelompok2 shahabat Nabi berangkat dlm suatu perjalanan yg mereka tempuh. Singgahlah mereka di sebuah kampung Arab. Mereka pun meminta agar dijamu sebagai tamu namun penduduk kampung tersebut enggan menjamu mereka.
Selang beberapa waktu kemudian pemimpin kampung tersebut terkena sengatan . Penduduk kampung tersebut pun berusaha mencari segala upaya penyembuhan namun sedikitpun tdk membuahkan hasil. Sebagian mereka ada yg berkata: ‘Kalau sekira kalian mendatangi sekelompok orang itu mungkin sebagian mereka ada yg memiliki sesuatu.’
Mereka pun mendatangi lalu berkata: “Wahai rombongan sesungguh pemimpin kami tersengat . Kami telah mengupayakan segala hal namun tdk membuahkan hasil. Apakah salah seorang di antara kalian memiliki sesuatu? Sebagian shahabat menjawab: ‘Iya. Demi Allah aku bisa meruqyah. Namun demi Allah kami telah meminta jamuan kepada kalian namun kalian tdk menjamu kami. mk aku tdk akan meruqyah utk kalian hingga kalian memberikan upah kepada kami.’
Mereka pun setuju utk memberi upah beberapa ekor kambing3. mk dia pun meludahi dan membacakan atas pemimpin kaum itu Alhamdulillahi rabbil ‘alamin . Pemimpin kampung tersebut pun merasa terlepas dari ikatan lalu dia berjalan tanpa ada gangguan lagi.
Mereka lalu memberikan upah sebagaimana telah disepakati. Sebagian shahabat berkata: ‘Bagilah.’ Sedangkan yg meruqyah berkata: ‘Jangan kalian lakukan hingga kita menghadap Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam lalu kita menceritakan kepada apa yg telah terjadi. Kemudian menunggu apa yg beliau perintahkan kepada kita.’
Merekapun menghadap Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam kemudian melaporkan hal tersebut. mk beliau bersabda: ‘Tahu dari mana kalian bahwa itu memang ruqyah?’ Lalu beliau berkata: ‘Kalian telah benar. Bagilah dan berilah untukku bagian bersama kalian’ sambil beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam tertawa.”
Adapun hadits yg diriwayatkan bahwa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
خَيْرُ الدَّوَاءِ الْقُرْآنُ
“Sebaik-baik obat adl Al-Qur`an.”
Dan hadits:
الْقُرْآنُ هُوَ الدَّوَاءُ
“Al-Qur`an adl obat.”
Kedua adl hadits yg dha’if telah dilemahkan oleh Al-Allamah Al-Albani rahimahullahu dlm Dha’if Al-Jami’ Ash-Shagir no. 2885 dan 4135.
Membuka Klinik Ruqyah
Di antara penyimpangan terkait dgn ruqyah adl menjadikan sebagai profesi seperti hal dokter atau bidan yg membuka praktek khusus. Ini merupakan amalan yg menyelisihi metode ruqyah di zaman Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Asy-Syaikh Shalih Alus Syaikh berkata ketika menyebutkan beberapa penyimpangan dlm meruqyah:
“Pertama dan yg paling besar adl menjadikan bacaan atau ruqyah sebagai sarana utk mencari nafkah di mana dia memfokuskan diri secara penuh utk itu. Memang telah dimaklumi bahwa manusia membutuhkan ruqyah. Namun memfokuskan diri utk itu bukanlah bagian dari petunjuk para shahabat di masanya. Padahal di antara mereka ada yg sering meruqyah. Namun bukan demikian petunjuk para shahabat dan tabi’in.
baru muncul di masa-masa belakangan. Petunjuk Salaf dan bimbingan As-Sunnah dlm meruqyah adl seseorang memberikan manfaat kepada saudara-saudara baik dgn upah ataupun tidak. Namun janganlah dia memfokuskan diri dan menjadikan sebagai profesi seperti hal dokter yg mengkhususkan diri . Ini baru dari sudut pandang bahwa hal tersebut tdk terdapat pada zaman generasi pertama.
Demikian pula dari sisi lainnya. Apa yg kami saksikan pada orang2 yg mengkhususkan diri telah menimbulkan banyak hal terlarang. Siapa yg mengkhususkan diri utk meruqyah niscaya engkau mendapati memiliki sekian penyimpangan. Sebab dia butuh prasyarat-prasyarat tertentu yg harus dia tunaikan dan yg harus dia tinggalkan. Serta ‘menjual’ tanpa petunjuk. Barangsiapa meruqyah melalui kaset-kaset suara-suara di mana dia membaca di sebuah kamar sementara speaker berada di kamar yg lain dan yg semisal merupakan hal yg menyelisihi nash. Ini sepantas dicegah utk menutup pintu . Sebab sangat mungkin akan menjurus kepada hal-hal tercela dari para peruqyah yg mempopulerkan perkara-perkara yg terlarang atau yg tdk diperkenankan syariat.
1 Sebagian para pengekor hawa nafsu dari kalangan orientalis dan ahli bid’ah mengingkari hadits yg menjelaskan bahwa Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah terkena sihir dan berusaha menolak dgn berbagai alasan batil. Dan telah kami bantah –walhamdulillah- para penolak hadits ini dlm sebuah kitab yg berjudul Membedah Kebohongan Ali Umar Al-Habsyi Ar-Rafidhi Bantahan ilmiah terhadap kitab: Benarkah Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah tersihir? Dan kami membahas secara rinci menurut ilmu riwayat maupun dirayah hadits. Silahkan merujuk kepada kitab tersebut.
2 dlm riwayat lain mereka berjumlah 30 orang.
3 dlm riwayat lain: 30 ekor kambing sesuai jumlah mereka.